Friday, April 19, 2013

SEPULUH ATURAN TERBAIK PEMBERIAN OBAT SECARA AMAN


SEPULUH  ATURAN TERBAIK PEMBERIAN OBAT SECARA AMAN

Sebagai seorang perawat kita sebaiknya sadar akan faktor-faktor penyulit dalam pemberian obat di rumah sakit saat ini. Sebagai contoh, kita mempunyai kesulitan mengingat sejumlah besar kegunaan obat ataupun efek sampingnya. Sedangkan kita dibebani banyak tanggung jawab dalam waktu yang singkat. Kita di rumah sakit mempunyai resiko tanggung jawab secara legal bila ada kesalahan dalam pemberian obat.

Meskipun pemberian obat merupakan salah satu masalah dalam tanggung jawab perawat, kita berharap ada pedoman-pedoman tertentu yang dapat menghindarkan kita dari suatu resiko kesalahan. Penulis (Kathleen Mc.Gowen, RN, BSN) menyebut pedoman tersebut sebagai “10 Aturan Terbaik Dalam Pemberian Obat”.

Untuk melengkapi makalah ini, kami akan mulai membahas mengenai :

1.  Nama, Klasifikasi dan Type Obat
a. Nama
Satu jenis obat mempunyai beberapa macam nama : nama generik, official name, nama kimia dan nama dagang. Nama generik diberikan sebelum obat menjadi official. Nama official diberikan setelah dikemas dan sebelum obat dipublikasikan. Nama kimia berdasarkan kandungan zat kimia pada obat yang bersangkutan. Nama dagang adalah nama yang diberikan oleh perusahaan yang membuatnya. Sebagai contoh, obat hydrochlorothiazide (nama official) dikenal dengan nama dagang Esidrix.

b. Klasifikasi
Obat-obat diklasifikasikan menurut kegunaan, komposisi dan efek sampingnya.

c. Macam Penggunaan/Type Obat
Obat dapat diberikan melalui beberapa cara antara lain oral, parenteral, sublingual, dan sebagainya.


2. Langka-Langka Pemberian Obat
Lima langka dalam pemberian obat :
a. Identifikasi pasien
Di rumah sakit biasanya sebelum obat diberikan, perawat harus mengidentifikasi nama pasien, memberi nomor untuk mencegah kesalahan, kemudian menanyakan kembali nama pasien atau menyebutkan dengan jelas nama pasien selanjutnya mendengarkan respon pasien sebelum obat diberikan.

b. Pemberian obat
Penting untuk memberikan obat secara benar. Instruksi dan daftar pengobatan harus dibaca secara hati-hati serta dicek kembali nama obat dan keberadaanya di tempat obat pasien. Pengobatan harus diberikan dengan dosis dan cara yang benar.

c. Intervensi perawat
Pasien membutuhkan pertolongan saat menerima pengobatan. Bantuan fisik sebagai contoh : memberikan posisi yang nyaman sebelum penyuntikan intra muskuler atau penjelasan tentang pengobatan dan petunjuk pemakaian obat yang efektif dan cara mencegah komplikasi.

d. Pencatatan
Pencatatan harus dilakukan secara lengkap dalam status pasien. Hal yang dicatat adalah : nama obat, dosis, cara pemberian dan data spesifik yang berhubungan dengan pemberian obat seperti denyut nadi harus diobservasi setelah pemberian obat digital. Pencatatan juga meliputi waktu pemberian dan yang terpenting adalah nama jelas dan tanda tangan perawat yang memberikan.

e. Evaluasi respon pasien
Respon terhadap pengobatan dapat diobservasi secara langsung pada pemberian intra vena, 10 - 20 menit setelah pemberian IM atau subkutan atau beberapa hari setelah pemberian oral. Perubahan tingkah laku dapat dikaji, misalnya pada pemberian tranquilizer atau rasa nyeri pasien dapat dikaji beberapa saat saetelah pemberian anti spasmodik.

Semua langkah pemberian obat, mulai menyiapkan obat sampai mengkaji keefektifan obat harus dicatat dan bila perlu dilaporkan pada perawat senior atau dokter.


3.  Petunjuk Pemberian Obat

·         Mencek kembali kebenaran instruksi pengobatan yang diberikan.
·         Sebelum pemberian perawat harus tahu tentang obat itu sendiri.
·         Pencatatan yang dilakukan meliputi : nama pasien, obat, nama dokter, tanggal, waktu pemberian, dosis, dan tanda tangan orang yang memberikan.
·         Kartu pengobatan biasanya memuat nama pasien, ruangan, nomor tempat tidur, nama obat, dosis, waktu dan cara pemberian. Juga dicantumkan tanggal instruksi diberikan.
·         Perawat harus konsentrasi pada tugas untuk menghindari kesalahan penyiapan dan pemberian obat.
·         Lima (5) benar petunjuk pemberian obat : benar obat, benar dosis, benar pasien, benar waktu, dan benar cara.
·         Obat yang disiapkan harus sesuai dengan  cara pemberian.
·         Untuk mencegah kesalahan saat penyiapan obat, perawat harus membaca lebel 3 X, sebelum mengambil dari tempatnya, saat memberikan dan saat menyimpannya kembali. 
·         Saat menyiapkan pengobatan jangan gunakan hal berikut :
·         Obat yang tidak mempunyai nama atau lebel.
·         Obat telah berubah warna/rusak.
·         Obat yang tetap ada endapannya meskipun sudah dikocok sebelum digunakan.
Kembalikan obat-obat tersebut ke bagian farmasi dan tuliskan alasan pengembaliannya.

·         Jangan kembalikan atau pindahkan obat dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menghindari bercampurnya obat dan kesalahan tempat.
·         Identifikasi pasien secara benar dan hati-hati.
·         Pasien mempunyai hak untuk mengetahui nama obat dan cara kerjanya. Juga berhak untuk menolak pengobatan dan alasan penolakan harus dituliskan dan dilaporkan.
·         Lakukan tindakan yang benar sebelum pengobatan. Contoh : observasi nadi apikal sebelum pemberian digitalis dan jangan berikan bila frekwensinya <60 X / menit.
·         Perawat harus berada di samping pasien saat pemberian obat.
·         Berikan obat sesuai waktu yang ditetapkan.
·         Jika pasien muntah saat diberikan obat peroral, catat hal tersebut dan nama obatnya. Laporkan segera kepada dokter. Biasanya dokter akan memberikan obat yang sama dengan cara yang berbeda.
·         Tindakan khusus biasanya dilakukan pada pemberian obat-obat tertentu.
·         Setelah pemberian obat catat di kartu pengobatan pasien. Pencatatan meliputi waktu, nama obat, dosisi, cara pemberian dan data lain yang berhubungan dengan pemberian obat.
·         Lihat petunjuk singkat yang tertera dalam brosur.
·         Evaluasi keefektifan obat pada waktu yang tepat setelah pemberian.
·         Pengobatan biasanya dihentikan sebelum operasi dan dokter menulis instruksi baru setelah operasi.
·         Ketika pemberian obat dihentikan sementara karena akan operasi/dilakukan tindakan diagnostik, tuliskan alasan penghentian tersebut dengan jelas pada catatan pengobatan pasien.
·         Kesalahan pengobatan kadang terjadi. Bila sudah terjadi kesalahan laporkan segera sebagai pertanggungjawaban perawat dan untuk penanganan segera. Kesalahan biasanya dicatat dalam formulir khusus.

Jika kita mempunyai pertanyaan tentang suatu jenis obat, bertanyalah kepada seorang farmasi, konsul dengan seorang dokter atau baca buku referensi yang bagus tentang obat, atau bicarakan dengan teman perawat jika kita tidak mengenal obat yang diinstruksikan. Tetapi jika instruksinya sendiri yang kurang jelas, yakinkan dengan mengklarifikasi sumbernya yaitu dokter yang menulis instruksi tersebut.

Sebagai contoh : Mary Dixon tergesa-gesa memberikan pengobatan pada jam 10.00 pagi. Dia dengan sekejap mata melihat catatn pemberian obat (MAR) dan memberitahu bahwa dokter menginstruksikan Ampicillin 500 mg untuk Tuan Stone. Ampicillin tidak ada di laci obat Tuan Stone. Jadi dia (Mary) mengambilnya dari laci persediaan. Malangnya instruksi dokter yang disalin di dalam MAR tidak benar/salah. Dokter sebenarnya ,menginstruksikan Amoxicillin bukan Ampicillin.

Itulah sebabnya mengapa banyak rumah sakit menentukan/mengharuskan perawat dinas malam mencek 2 X MAR dengan instruksi yang asli. Bila obat tidak ditemukan di laci obat pasien, Mary seharusnya melakukan pengecekkan 2 X.