Sunday, April 21, 2013

ASKEP ERITRODERMA


ERITRODERMA
                                                     
A. DEFINISI
  • Eritroderma ( dermatitis eksfoliativa ) adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema seluruh / hampir seluruh tubuh , biasanya disertai skuama ( Arief Mansjoer , 2000 : 121 ).
  • Eritroderma merupakan inflamasi kulit yang berupa eritema yang terdapat hampir atau di seluruh tubuh ( www. medicastore . com ).
  • Dermatitis eksfoliata generalisata adalah suatu kelainan peradangan yang ditandai dengan eritema dan skuam yang hampir mengenai seluruh tubuh ( Marwali Harahap , 2000 : 28 )
  • Dermatitis eksfoliata merupakan keadaan serius yang ditandai oleh inflamasi yang progesif dimana eritema dan pembentukan skuam terjadi dengan distribusi yang kurang lebih menyeluruh ( Brunner & Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 ).

B. ETIOLOGI
Berdasarkan penyebabnya , penyakit ini dapat dibagikan dalam 2 kelompok :
1.      Eritrodarma eksfoliativa primer
Penyebabnya tidak diketahui. Termasuk dalam golongan ini eritroderma iksioformis konginetalis dan eritroderma eksfoliativa neonatorum(5–0 % ).

2.      Eritroderma eksfoliativa sekunder
a.       Akibat penggunaan obat secara sistemik yaitu penicillin dan derivatnya , sulfonamide , analgetik / antipiretik dan ttetrasiklin.
b.      Meluasnya dermatosis ke seluruh tubuh , dapat terjadi pada liken planus , psoriasis , pitiriasis rubra pilaris , pemflagus foliaseus , dermatitis seboroik dan dermatitis atopik.
c.       Penyakit sistemik seperti Limfoblastoma.
( Arief Mansjoer , 2000 : 121 : Rusepno Hasan 2005 : 239 )

C. ANATOMI
Kulit mepunyai tiga lapisan utama : Epidermis , Dermis dan Jaringan sub kutis. Epidermis ( lapisan luar ) tersusun dari beberapa lapisan tipis yang mengalami tahap diferensiasi pematangan.
Kulit ini melapisi dan melindungi organ di bawahnya terhadap kehilangan air , cedera mekanik atau kimia dan mencegah masuknya mikroorganisme penyebab penyakit. Lapisan paling dalam epidermis membentuk sel – sel baru yang bermigrasi kearah permukaan luar kulit. Epidermis terdalam juga menutup luka dan mengembalikan integritas kulit sel – sel khusus yang disebut melanosit dapat ditemukan dalam epidermis. Mereka memproduksi melanin , pigmen gelap kulit. Orang berkulit lebih gelap mempunyai lebih banyak melanosit aktif.


Epidermis terdiri dari 5 lapisan yaitu :
a.       Stratum Korneum
Selnya sudah mati , tidak mempunyai intisel , intiselnya sudah mati dan mengandung zat keratin.
b.      Stratum lusidum
Selnya pipih , bedanya dengan stratum granulosum ialah sel – sel sudah banyak yang kehilangan inti dan butir – butir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar.
Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki.
c.       Stratum Granulosum
Stratum ini terdiri dari sel – sel pipih. Dalam sitoplasma  terdapat butir–butir yang disebut keratohialin yang merupakan fase dalam pembentukan keratin.
d.      Stratum Spinosum / Stratum Akantosum
Lapisan yang paling tebal.
e.       Stratum Basal / Germinativum
Stratum germinativum menggantikan sel – sel yang diatasnya dan merupakan sel – sel induk.
Dermis terdiri dari 2 lapisan :
a.       Bagian atas , papilaris ( stratum papilaris )
b.      Bagian bawah , retikularis ( stratum retikularis )
Kedua jaringan tersebut terdiri dari jaringan ikat lonngar yang tersusun dari serabut – serabut kolagen , serabut elastis dan serabut retikulus
Serabut kolagen untuk memberikan kekuatan pada kulit. Serabut elastis memberikan kelenturan pada kulit.
Retikulus terdapat terutama di sekitar kelenjar dan folikel rambut dan memberikan kekuatan pada alat tersebut.
Subkutis
Terdiri dari kumpulan – kumpulan sel – sel lemak dan diantara gerombolan ini berjalan serabut – serabut jaringan ikat dermis.
Fungsi kulit :
- Proteksi                                    - Pengatur suhu
- Absorbsi                                   - Pembentukan pigmen
- Eksresi                                     - Keratinisasi
- Sensasi                                     - Pembentukan vit D
( Syaifuddin , 1997 : 141 – 142 )

D. PATOFISIOLOGI
Pada dermatitis eksfoliatif terjadi pelepasan stratum korneum ( lapisan kulit yang paling luar ) yang mencolok yang menyebabkan kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negatif . Karena dilatasi pembuluh darah kulit yang luas , sejumlah besar panas akan hilang jadi dermatitis eksfoliatifa memberikan efek yang nyata pada keseluruh tubuh.
Pada eritroderma terjadi eritema dan skuama ( pelepasan lapisan tanduk dari permukaan kult sel – sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat dan sel – sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik / plak jaringan epidermis yang profus.
Mekanisme terjadinya alergi obat seperti terjadi secara non imunologik dan imunologik ( alergik ) , tetapi sebagian besar merupakan reaksi imunologik. Pada mekanismee imunologik, alergi obat terjadi pada pemberian obat kepada pasien yang sudah tersensitasi dengan obat tersebut. Obat dengan berat molekul yang rendah awalnya berperan sebagai antigen yang tidak lengkap ( hapten ). Obat / metaboliknya yang berupa hapten ini harus berkojugasi dahulu dengan protein misalnya jaringan , serum / protein dari membran sel untuk membentuk antigen obat dengan berat molekul yang tinggi dapat berfungsi langsung sebagai antigen lengkap.
( Brunner & Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 )

F. MANIFESTASSI KLINIS 
·         Eritroderma akibat alergi obat , biasanya secara sistemik. Biasanya timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Lesi awal berupa eritema menyeluruh , sedangkan skuama baru muncul saat penyembuhan.
·         Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit yang tersering addalah psoriasis dan dermatitis seboroik pada bayi ( Penyakit Leiner ).
        Eritroderma karena psoriasis
Ditemukan eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninngi daripada sekitarnya dengan skuama yang lebih kebal. Dapat ditemukan pitting nail.
  Penyakit leiner ( eritroderma deskuamativum )
Usia pasien antara 4 -20 minggu keadaan umum baik biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritama seluruh tubuh disertai skuama kasar.
  Eritroderma akibat penyakit sistemik , termasuk keganasan. Dapat ditemukan adanya penyakit pada alat dalam , infeksi dalam dan infeksi fokal. ( Arif Masjoor , 2000 : 121 )

G. KOMPLIKASI
Komplikasi eritroderma eksfoliativa sekunder :
- Abses                              - Limfadenopati
- Furunkulosis                   - Hepatomegali
- Konjungtivitis                 - Rinitis
- Stomatitis                                    - Kolitis
- Bronkitis
( Ruseppo Hasan , 2005 : 239 : Marwali Harhap , 2000 , 28 )

H. PENGKAJIAN FOKUS
Pengkajian keperawatan yang berkelanjutan dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi. Kulit yang mengalami disrupsi , eritamatosus serta basah amat rentan terhadap infeksi dan dapat menjadi tempat kolonisasi mikroorganisme pathogen yang akan memperberat inflamasi antibiotik , yang diresepkan dokter jika terdapat infeksi , dipilih berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas.

I.       Biodata
  1. Jenis Kelamin
Biasnya laki – lak 2 -3 kali lebih banyak dari perempuan.
  1. Riwayat Kesehatan
        Riwayat penyakit dahulu ( RPM )
Meluasnya dermatosis keseluruh tubuh dapat terjadi pada klien planus , psoriasis , pitiasis rubra pilaris , pemfigus foliaseus , dermatitis. Seboroik dan dermatosiss atopik , limfoblastoma.
        Riwayat Penyakit Sekarang
Mengigil panas , lemah , toksisitas berat dan pembentukan skuama  kulit.

c.       Pola Fungsi Gordon
1.      Pola Nutrisi dan metabolisme
Terjadinya kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negative mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh pasien ( dehidrasi ).
2.      Pola persepsi dan konsep diri
        Konsep diri
Adanya eritema ,pengelupasan kulit , sisik halus berupa kepingan / lembaran zat tanduk yang besr – besar seperti keras selafon , pembentukan skuama sehingga mengganggu harga diri.
3.      Pemeriksaan fisik
a. KU : lemah
b. TTV : suhu naik atau turun.
c. Kepala
Bila kulit kepala sudah terkena dapat terjadi alopesia.
d. Mulut
Dapat juga mengenai membrane mukosa terutama yang disebabkan oleh obat.
e. Abdomen
Adanya limfadenopati dan hepatomegali.
f. Ekstremitas
Perubahan kuku dan kuku dapat lepas.
g. Kulit
Kulit periorbital mengalami inflamasi dan edema sehingga terjadi ekstropion pada keadaan kronis dapat terjadi gangguan pigmentasi. Adanya eritema , pengelupasan kulit , sisik halus dan skuama.
( Marwali Harahap , 2000 : 28 – 29 : Rusepno Hasan , 2005 : 239 , Brunner & Suddarth , 2002 : 1878 ).

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI
1.   Gangguan integritas kulit bd lesi dan respon peradangan
Kriteria hasil : - menunjukkan peningkatan integritas kulit
                               - menghindari cidera kulit
Intervensi
a.       kaji keadaaan kulit secara umum
b.      anjurkan pasien untuk tidak mencubit atau menggaruk daerah kulit
c.       pertahankan kelembaban kulit
d.      kurangi pembentukan sisik dengan pemberian bath oil
e.       motivasi pasien untuk memakan nutrisi TKTP
 2. Gangguan rasa nyaman : gatal bd adanya bakteri / virus di         kulit
Tujuan : setelah dilakuakn asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi luka pada kulit karena gatal
            Kriteria hasil : - tidak terjadi lecet di kulit
-          pasien berkurang gatalnya
      Intervensi
a.       beritahu pasien untuk tidak meggaruk saat gatal
b.      mandikan seluruh badan pasien ddengan Nacl
c.       oleskan badan pasien dengan minyak dan salep setelah pakai Nacl
d.      jaga kebersihan kulit pasien
e.       kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pengurang rasa gatal
     3. Resti infeksi bd hipoproteinemia
Tujuan : setalah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan       tidak terjadi infeksi
         Kriteria hasil : - tidak ada tanda – tanda infeksi
                                  ( rubor , kalor , dolor , fungsio laesa )
                                 - tidak timbul luka baru
Intervensi                        
a.       monitor TTV
b.      kaji tanda – tanda infeksi
c.       motivasi pasien untuk meningkatkan nutrisi TKTP
d.      jaga kebersihan luka
e.       kolaborasi pemberian antibiotik







DAFTAR PUSTAKA

-          Brunner 7 Suddarth vol 3 , 2002. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH, Jakarta : EGG
-          Doenges  M E. 1999. Rencana asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan dokumentasi perawatan pasien edisi 3 , Jakarta : EGC
-          Harahap Marwali 2000 , Ilmu Penyakit Kulit , Jakarta : Hipokrates
-          Hasan Rusepno 2005 , Ilmu Keperawatan Anak , Jakarta : FKUI
-          Mansjoer , Arief , 2000 , Kapita Selekta Kedokteran , Jakarta : EGC
-          Syaifudin , 1997 , anatomi Fisiologi , Jakarta : EGC

  


  


    





ASKEP HIFEMA


HIFEMA


A. Anatomi dan Fisiologi Pada Mata

Secara garis besar anatomi mata dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, dan untuk ringkasnya fisiologi mata akan diuraikan secara terpadu. Keempat kelompok ini terdiri dari :
1)      Palpebra
Dari luar ke dalam terdiri dari : kulit, jaringan ikat lunak, jaringan otot, tarsus, vasia dan konjungtiva.
Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, bekerja sebagai jendela memberi jalan masuknya sinar kedalam bola mata, juga membasahi dan melicinkan permukaan bola mata.
2)      Rongga mata
Merupakan suatu rongga yang dibatasi oleh dinding dan berbentuk sebagai piramida kwadrilateral dengan puncaknya kearah foramen optikum. Sebagian besar dari rongga ini diisi oleh lemak, yang merupakan bantalan dari bola mata dan alat tubuh yang berada di dalamnya seperti: urat saraf, otot-otot penggerak bola mata, kelenjar air mata, pembuluh darah 
3)      Bola mata
Menurut fungsinya maka bagian-bagiannya dapat dikelompokkan menjadi:
o   Otot-otot penggerak bola mata
o   Dinding bola mata yang teriri dari : sklera dan kornea. Kornea kecuali sebagai dinding juga berfungsi sebagai jendela untuk jalannya sinar.
o   Isi bola mata, yang terdiri atas macam-macam bagian dengan fungsinya masing-masing
4)      Sistem kelenjar bola mata
Terbagi menjadi dua bagian:
o    Kelenjar air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata
o    Saluran air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva ke dalam rongga hidung

B.    Definisi

Hifema adalah adanya darah di dalam kamera anterior (Smeltzer,2001). Hifema atau adanya darah dalam bilik mata depan dapat terjadi karena trauma tumpul (Sidarta,1998). Bila pasien duduk, hifema akan terlihat mengumpul di bagian bawah bilik mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Darah dalam cairan aqueus humor dapat membentuk lapisan yang terlihat. Jenis trauma ini tidak perlu menyebabkan perforasi bola mata.

C.    Etiologi

Hifema biasanya disebabkan trauma pada mata, yang menimbulkan perdarahan atau perforasi (Douglas, 2002). Inflamasi yang parah pada iris, sel darah yang abnormal dan kanker mungkin juga bisa menyebabkan perdarahan pada bilik depan mata. Trauma tumpul dapat merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Gaya-gaya kontusif akan merobek pembuluh darah iris dan merusak sudut kamar okuli anterior. Tetapi dapat juga terjadi secara spontan atau pada patologi vaskuler okuler. Darah ini dapat bergerak dalam kamera anterior, mengotori permukaan dalam kornea.

D.    Tanda dan Gejala

1.      Pandangan mata kabur

2.      Penglihatan sangat menurun

3.      Kadang – kadang terlihat iridoplegia & iridodialisis

4.      Pasien mengeluh sakit atau nyeri

5.      Nyeri disertai dengan efipora & blefarospasme

6.      Pembengkakan dan perubahan warna pada palpebra

7.      Retina menjadi edema & terjadi perubahan pigmen

8.      Otot sfingter pupil mengalami kelumpuhan

9.      Pupil tetap dilatasi (midriasis)

10.  Tidak bereaksi terhadap cahaya beberapa minggu setelah trauma.

11.  Pewarnaan darah (blood staining) pada kornea

12.  Kenaikan TIO (glukoma sekunder )

13.  Sukar melihat dekat

14.  Silau akibat gangguan masuknya sinar pada pupil

15.  Anisokor pupil

16.  Penglihatan ganda (iridodialisis)


E.      Patofisiologi / Pathways

Terlampir

F.       Pemeriksaan Diagnostik

1.     Kartu mata snellen (tes ketajaman penglihatan) : mungkin terganggu akibat kerusakan kornea, aqueus humor, iris dan retina.

2.     Lapang penglihatan : penurunan mungkin disebabkan oleh patologi vaskuler okuler,glukoma.

3.     Pengukuran tonografi : mengkaji tekanan intra okuler ( TIO ) normal 12-25 mmHg.

4.     Tes provokatif : digunakan untuk menentukan adanya glukoma bila TIO normal atau meningkat ringan.

5.     Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, edema retine, bentuk pupil dan kornea.

6.     Darah lengkap, laju sedimentasi LED : menunjukkan anemia sistemik/infeksi.

7.     Tes toleransi glokosa : menentukan adanya /kontrol diabetes.

G.   Penatalaksanaan Medis

1.     Pasien tetap istirahat ditempat tidur (4-7 hari) sampai hifema diserap.

2.     Diberi tetes mata antibiotika pada mata yang sakit dan diberi bebat tekan.

3.     Pasien tidur dengan posisi kepala miring 60º diberi koagulasi.

4.     Kenaikan TIO diobati dengan penghambat anhidrase karbonat. (asetasolamida).

5.     Di beri tetes mata steroid dan siklopegik selama 5 hari.

6.     Pada anak-anak yang gelisah diberi obat penenang

7.     Parasentesis tindakan atau mengeluarkan darah dari bilik mata depan dilakukan bila ada tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila setelah 5 hari tidak terlihat tanda-tanda hifema akan berkurang.

8.     Asam aminokaproat oral untuk bekuan darah.

9.     Evakuasi bedah jika TIO lebih 35 mmHg selama 7 hari atau lebih 50 mmH selama 5 hari.

10. Vitrektomi dilakukan bila terdapat bekuan sentral dan lavase kamar anterior.

11. Viskoelastik dilakukan dengan membuat insisi pada bagian limbus.

 



H.      Pengkajian

1. Data subyektif

a.      Pandangan kabur atau ganda

b.     Penglihatan silau

c.      Penglihatan berkurang atau tidak ada

d.     Kesukaran melihat dekat

e.      Kelelahan dan ketegangan mata

f.      Nyeri

g.     Peningkatan air mata (epifora)

2.    Data obyektif

a.        Tanda-tanda vital

b.       Drainase

c.        Haemoragi

d.       Anisokor pupil

e.        Pupil tidak bereaksi terhadap sinar

f.        Perubahan kelopak mata, edema, kekakuan, kemerahan

g.       Ketajaman penglihatan

h.       Pembengkakan kelopak mata

i.         Edema kornea kontusio orbita kelopak mata


3.                                                                             Kondisi / penyakit yang menyertai

a.        Diabetes melitus

b.       Masalah-masalah sinus

c.        Hipertensi

d.       Glaukoma

e.        Penyakit, trauma atau tumor yang berhubungan dengan serebral

f.        Robekan retina

g.       Penyakit autoimun


4.                                                                             Pembedahan atau penyakit sebelumnya

a.        Pembedahan atau penanganan mata

b.       Trauma kepala atau muka

c.        Koma hipertensi

d.       Degenerasi retina

e.        Ketergantungan zat


5.                                                                             Riwayat keluarga

a.          Glaukoma

b.         Diabetes melitus

c.          Katarak

d.         Pigmentosa retinitis


6.                                                                             Riwayat sosial

a.          Bahaya pekerjaan atau rekreasi

b.         Kewaspadaan keamanan yang digunakan

c.          Ketergantungan obat atau alkohol

d.         Kerja fisik yang berat







I.         Diagnosa Keperawatan

1.  Nyeri berhubungan dengan terpajannya reseptor nyeri sekunder terhadap trauma tumpul

Tujuan                        : Rasa nyeri berkurang
Kriteria hasil   :
a.      Pasien mendemonstrasikan pengetahuan pengontrolan nyeri
b.     Pasien mengalami dan mendemonstrasikan periode tidur yang tidak terganggu
c.      Pasien mengatakan nyeri berkurang dengan skala nyeri ringan (1-3)

Intervensi        :

b.    Kaji tipe, intensitas dan lokasi nyeri
c.    Gunakan tingkatan skala nyeri untuk menentukan dosis analgetik
d.   Pertahankan tirah baring dengan posisi tegak atau posisi kepala 60º
e.    Lakukan bebat mata pada bagian yang sakit
f.     Berikan kompres dingin untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan
g.    Berikan sedasi untuk meminimalkan aktivitas
h.    Berikan analgetik dan kortikosteroid
i.      Berikan gosok punggung, perubahan posisi untuk
meningkatkan kenyamanan
j.      Bantu ajarkan teknik relaksasi

2.  Resiko terjadi komplikasi dan perdarahan ulang berhubungan dengan  patologi vaskuler okuler

Tujuan                        : Tidak terjadi perdarahan ulang
Kriteria hasil   :
a.         Perdarahan utama segera berhenti dan dapat diserap kembali
b.        Jumlah darah dalam kamera okuli  anterior tidak bertambah
c.         Tidak terjadi obstruksi pada jaringan trabekular
Intervensi        :

a.       Kaji jumlah perdarahan pada okuli anterior

b.       Mata diperiksa untuk melihat adanya perdarahan sekunder

      dan kenaikan TIO

c.       Pertahankan tirah baring dan pemberian sedasi untuk minimal aktivitas

d.      Posisikan pasien tetap dalam posisi tegak diam

e.       Berikan balut tekan pada mata yang sakit dan lakukan penggantian balutan

f.        Beri koagulansia dan antibiotika

g.       Evakuasi perdarahan dengan parasentesis

h.       Berikan anhidrase karbonat (asetasolamide) untuk atasi kenaikan TIO


3.       Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan kerusakan penglihatan

Tujuan                        : Pasien mampu beradaptasi dengan perubahan
Kriteria hasil   :
a.      Pasien menerima dan mengatasi sesuai dengan keterbatasan penglihatan
b.     Menggunakan penglihatan yang ada atau indra lainnya secara adekuat
Intervensi        :
a.      Perkenalkan pasien dengan lingkungan sekitarnya
b.     Beritahu pasien untuk mengoptimalkan alat indera yang lain
c.      Bantu pasien untuk beradaptasi menggunakan indera lainnya yang tidak mengalami trauma
d.     Kunjungi dengan sering untuk menentukan kebutuhan dan menghilangkan ansietas
e.      Anjurkan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran
f.      Libatkan orang terdekat dalam perawatan dan aktivitas
g.     Kurangi bising dan berikan istirahat yang seimbang

4.       Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan penurunan ketajaman penglihatan

Tujuan                        : Ansietas dapat teratasi
Kriteria hasil   :
a.       Pasien mendemonstrasikan penilaian penanganan adaptif untuk mengurangi ansietas
b.       Pasien mendemonstrasikan pemahaman proses penyakit
Intervensi        :
a.      Kaji tingkat ansietas pasien
b.     Diskusikan metode penanganan ansietas
c.      Dorong mengungkapkan ansietas
d.     Pertahankan limgkungan yang tenang
e.      Berikan dukungan emosional
f.      Tempatkan seluruh barang-barang yang dibutuhkan dalam jarak yang dapat dijangkau
g.     Pastikan bahwa bantuan terhadap aktivitas sehari-hari akan ada
h.     Bantu atau ajarkan teknik relaksasi, nafas dalam, meditasi

5.     Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai perawatan diri dan proses penyakit
Tujuan                        : Pasien memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penyakitnya
Kriteria hasil   :
a.       Pasien memahami instruksi pengobatan
b.       Pasien memverbalisasikan gejala-gejala untuk dilaporkan
Intervensi        :
a.      Beritahu pasien tentang penyakit yang diderita
b.     Ajarkan perawatan diri selama sakit
c.      Ajarkan prosedur penetesan obat tetes mata dan penggantian balutan
d.     pada pasien dan keluarga
e.      Diskusikan gejala-gejala terjadinya perdarahan ulang dan kenaikan TIO



DAFTAR PUSTAKA

1.     Vaughan, Dale. Oftalmologi Umum. Alih bahasa Jan Tambajong dan Brahm U. Ed. 14. Jakarta : Widya Medika ; 2000.

2.     Sidarta, Ilyas. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Cet. 5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 1998.

3.     Tucker, Susan Martin et al. Standar Perawatan Pasien : proses keperawatan, diagnosis dan evaluasi. Alih bahasa Yasmin Asih dkk. Ed. 5. Jakarta : Egc ; 1998

4.     Darling, Vera H & Thorpe Margaret R. Perawatan Mata. Yogyakarta : Penerbit Andi; 1995.

5.     Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.

6.     Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999

7.     Douglas, Raymond S. Hifema. Departement of Ophthalmology, UCLA Menical Center, Los Angeles, CA. 2002