Monday, April 8, 2013

ASKEP SPACE OCCUPYING LESSION ( SOL )


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
SPACE OCCUPYING LESSION ( SOL )

A.     Pengertian

SOL merupakan generalisasi masalah tentang adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan lesi pada otak seperti kuntusio serebri, hematoma, infark, abses otak dan tumor intra kranial. ( Long, C 1996 ; 130 )
Dalam Laporan Pendahuluan ( LP ) ini, penulis batasi pada Tumor Otak Adapun definisi Tumor Otak adalah proses pertumbuhan termasuk benigna dan maligna yang mengenai otak dan sumsum tulang belakang            ( Bullock, 1996 ).

B.     Etiologi

Faktor Resiko, tumor otak dapat terjadi pada setiap kelompok Ras, insiden meningkat seiring dengan pertambahan usia terutama pada dekade kelima, keenam dan ketujuh .faktor resiko akan meningkat pada orang yang terpajan zat kimia tertentu ( Okrionitil, tinta, pelarut, minyak pelumas ), namun hal tersebut belum bisa dipastikan.Pengaruh genetik berperan serta dalam tibulnya tumor, penyakit sklerosis TB dan penyakit neurofibomatosis.

C.     Tanda dan gejala

1.       Tanda dan gejala  peningkatan TIK :
a.       Sakit kepala
b.       Muntah
c.       Papiledema
2.       Gejala terlokalisasi ( spesifik sesuai dengan dareh otak yang terkena ) :
a.       Tumor  korteks motorik ; gerakan seperti kejang kejang yang terletak
       pada satu sisi tubuh ( kejang jacksonian )

b.       Tumor lobus oksipital ; hemianopsia homonimus kontralateral ( hilang
Penglihatan pada setengah lapang pandang , pada sisi yang berlawanan dengan tumor ) dan halusinasi penglihatan
c.       Tumor serebelum ; pusing, ataksia, gaya berjalan sempoyongan
dengan kecenderungan jatuh kesisi yang lesi, otot otot tidak terkoordinasi dan nistagmus ( gerakan mata berirama dan tidak disengaja )
d.      Tumor lobus frontal ; gangguan kepribadia, perubahan status
emosional dan tingkah laku, disintegrasi perilaku mental., pasien sering menjadi ekstrim yang tidak teratur dan kurang merawat diri
e.       Tumor sudut serebelopontin ; tinitus dan kelihatan vertigo, tuli (
gangguan saraf kedelapan ), kesemutan dan rasa gatal pada wajah dan lidah ( saraf kelima ), kelemahan atau paralisis ( saraf kranial keketujuh ), abnormalitas fungsi motorik.
f.        Tumor intrakranial bisa menimbulkan gangguan kepribadian, konfusi,
      gangguan bicara dan gangguan gaya berjalan terutam pada lansia.
( Brunner & Sudarth, 2003 ; 2170 )

D.     Pemeriksaan Diagnostik

1.       CT Scan ; memberi informasi spesifik mengenai jumlah, ukuran, kepadatan, jejas tumor dan meluasnya odema cerebral serta memberi informasi tentang sistem vaskuler
2.       MRI ; membantu dalam mendeteksi tumor didalam batang otakdan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang menggunakan CT Scan
3.       Biopsi Stereotaktik ; dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberi dasar pengobatan serta informasi prognosis.
4.       Angiografi ; memberi gambaran pembuluh darahserebral dan letak tumor



5.       Elektro ensefalografi ; mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang
( Doenges, 2000  )

E.     Pengkajian

1.       Data dasar ; nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, alamat, golongan darah, penghasilan
2.       Riwayat kesehatan ; apakah klien pernah terpajan zat zat kimia tertentu, riwayat tumor pada keluarga, penyakit yang mendahului seperti sklerosis TB dan penyakit neurofibromatosis, kapan gejala mulai timbul
3.       Aktivitas / istirahat, Gejala : kelemahan / keletihan, kaku, hilang keseimbangan. Tanda :  perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, quadriplegi, ataksia, masalah dalam keseimbangan, perubaan pola istirahat, adanya faktor faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, cemas, keterbatasan dalam hobi dan dan latihan
4.       Sirkulasi, gejala : nyeri kepala pada saat beraktivitas. Kebiasaan : perubahan pada tekanan darah atau normal, perubahan frekuensi jantung.
5.       Integritas Ego, Gejal : faktor stres, perubahan  tingkah laku atau kepribadian, Tanda : cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi dan impulsif.
6.       Eliminasi : Inkontinensia kandung kemih/ usus mengalami gangguan fungsi.
7.       makanan / cairan , Gejala : mual, muntah proyektil dan mengalami perubahan selera. Tanda : muntah  ( mungkin proyektil ), gangguan menelan ( batuk, air liur keluar, disfagia )
8.       Neurosensori, Gejala : Amnesia, vertigo, synkop, tinitus, kehilangan pendengaran, tingling dan baal pad aekstremitas, gangguan pengecapan dan penghidu. Tanda : perubahan kesadaran sampai koma, perubahan status mental, perubahan pupil, deviasi pada mata ketidakmampuan mengikuti, kehilangan penginderaan, wajah tidak simetris, genggaman lemah tidak seimbang, reflek tendon dalam lemah, apraxia, hemiparese, quadriplegi, kejang, sensitiv terhadap gerakan
9.       Nyeri / Kenyamanan,  Gejala : nyeri kepala dengan intensitas yang berbeda dan  biasanya lama. Tanda : wajah menyeringai, respon menarik dri rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa istirahat / tidur.
10.   Pernapasan, Tanda : perubahan pola napas, irama napas meningkat, dispnea, potensial obstruksi.
11.   Hormonal :  Amenorhea, rambut rontok, dabetes insipidus.
12.   Sistem Motorik : scaning speech, hiperekstensi sendi, kelemahan
13.   keamanan , Gejala : pemajanan bahan kimia toksisk, karsinogen, pemajanan sinar matahari berlebihan. Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi
14.   seksualitas,  gejala: masalah pada seksual ( dampak pada hubungan, perubahan tingkat kepuasan )
15.   Interaksi sosial : ketidakadekuatan sitem pendukung, riwayat perkawinan    ( kepuasan rumah tangga, dudkungan ),  fungsi peran.
( Doenges, 2000 )

F. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

1.       Gangguan perfusi jaringan serebral b.d penghentian aliran darah oleh SOL dibuktikan dengan perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori, perubaan respon motorik / sensori, gelisah dan perubahan tanda vital
Kriteria evaluasi : Pasien akan dipertahankan tingkat kesadaran , perbaiakan kognisi, fungsi motorik / sensorik, TTV stabil, tidak ada tanda peningkatan TIK
Intervensi :
a.       Tentukan penyebab penurunan perfusi jaringan
b.       Pantau status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nila standar ( GCS )
c.       Pantau TTV
d.      Kaji perubahan penglihatan dan keadan pupil
e.       Kaji adanya reflek  ( menelan, batuk, babinski )
f.        Pantau pemasukan dan pengeluaran cairan
g.       Auskultasi suara napas, perhatikan adananya hipoventilasi, dan suara tambahan yang abnormal
Kolaborasi :
h.       Pantau analisa gas darah
i.         Berikan obat sesuai indikasi : deuretik, steroid, antikonvulsan
j.         Berikan oksigenasi

2.       Resiko tinggi terhadap ketidakefektifan pola napas b.d kerusakan neurovaskuler, kerusakan kognitif.
Kriteria evaluasi : pasien dapat, dipertahanakan pola nafas efektif, bebas sianosis, dengan GDA dalam batas normal
Intervensi :
a.       Kaji dan catat perubahan frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan
b.      Angkat kepala tempat tidur sesuai atuiran / posisi miringsesuai indikasi
c.       Anjurkan utuk bernapas dalam, jika pasien sadar
d.      Lakukan penghisapan lendir dengan hati hati jangan lebih dari 10 – 15 detik, catat karakter warna, kekentalan dan kekeruhan sekret
e.       Pantau pengguanaan obat  obatan depresan seperti sedatif
Kolaborasi:
f.       Berikan O2 sesuai indikasi
g.      Lakaukan fisioterapi dada jika ada indikasi

3.       Nyeri ( akut ) / kronis b.d agen pencedera fisik, kompresi saraf oleh SOL, peningkatan TIK, ditandai dengan : menyetakan nyeri oleh karena perubahan posisi, nyeri, pucat sekitar wajah, perilaku berhati hati, gelisah condong keposisi sakit, penurunan terhadap toleransi aktivitas, penyempitan fokus pad dirisendiri, wajah menahan nyeri, perubahna pla tidur, menarik diri secara fisik
Kriteria evalusi : pasien melaporkannyeri berkurang, menunjukan perilaku untuk mengurangi kekambuhan atau nyeri .
Intervensi :
a.       kaji keluhan nyeri
b.       Observasi keadaan nyeri nonverbal ( misal ; ekspresi wajah, gelisah, menangis, menarik diri, diaforesis, perubaan frekuensi jantung, pernapasan dan tekanan darah.
c.       Anjurkan untuk istirahat denn tenang
d.      Berikan kompres panas lembab pada kepala, leher, lengan sesuai kebutuhan
e.       Lakukan pemijatan pada daerah kepala / leher / lengan jika pasien dapat toleransi terhadap sentuhan
f.        Sarankana pasien untuk menggnakan persyaratan positif “ saya sembuh “ atau “ saya suka hidup ini “
Kolaborasi :
g.       Berikan analgetik / narkotik sesuai indikasi
h.       Berikan antiemetiksesuai indikasi

4.       Perubahan persepsi sensori b.d perubahan resepsi sensoris, transmisi dan atau integrasi ( trauma atau defisit neurologis ), ditandai denagg disorientasi, perubaan respon  terhadap rangsang, inkoordinasi motorik, perubahan pola komunikasi, distorsi auditorius dan visual, penghidu, konsentrasi buruk, perubahan proses pikir, respon emosiaonal berlebihan, perubahan pola perilaku
Kriteria evaluasi : pasien dapat dipertahanakan tingkat kesadaran dan fuingsi persepsinya, mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residu, mendemonstrasikan perubahan gaya hidup.
Intervensi :
a.       Kaji secar teratur perubahan orientasi, kemampuan bicara,  afektif, sensoris dan proses pikir
b.      Kaji kesadaran sensoris seperti respon sentuan , panas / dingin, benda tajam atau tumpul, keadaran terhadap gerakan dan  letak  tubuh, perhatkian adanya masalah penglihatan
c.       Observasi repon perilaku
d.      Hilangkan suara bising / stimulus ang berlebihan
e.       Berikan stimulus yang berlebihan seperti verbal, penghidu, taktil, pendengaran, hindari isolasi secara fisik dan psikologis
Kolaborasi :
f.       pemberian obat supositoria gna mempermudah proses BAB
g.      konsultasi dengan ahli fisioterapi  / okupasi

5.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d peningkatan TIK, konsekuensi kemoterapi, radiasi, pembedahan, ( anoreksia, iritasi, penyimpangan rasa mual ) dibuktikan oleh  : keluhan masukan makan tidak adekuat, kehilangan sensai pengecapan, kehilangan minat makan, ketidakmampuan untk mencerna yang dirasakan / aktual, berat badan 20 % atau lebih dibawah badan ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh, penurunan penumpukn lemak / masa otot, sariawab, rongga mulut terinflamasi, diare,konstipasi, kram abdomen.
Krieteria evaluasi :pasien dapat mendemonstrasikan berat badan stabil, mengungkapkan pemasukan adekuat, berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makan
Intervensi :
a.       Pantau masukan makanan setiap hari
b.      Ukur BB setiap hari sesui indikasi
c.       Dorong pasien untuk makandiit tinggi kalori kaya nutrien sesui program
d.      Kontrol faktor lingkungan  ( bau, bising ) hindari makanan terlalu manis, berlemak dan pedas. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan
e.       Identifikasipasien yang mengalami mual / muntah
Kolaborasi :
f.       Pemberian anti emetik dengan jadwal reguiler
g.      Vitamin A, D, E dan B6
h.      Rujuk kepada ahli diit
i.        Pasang / pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral
     ( Doenges,  2000  dan L.J  Carpenito, 1997 )




Daftar Pustaka 

Barbara C. Long, alih bahasa R.Karnaen dkk, 1996, Perawatan Medikal Bedah. EGC, Jakarta
Barbara L. Bullock 1996, Patofisiology, Adaptasi and alterations infeksius function, Fourth edition, Lipincott, Philadelpia
Brunner & Sudarth, 2003,  Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed 8 Vol 3 , EGC, jakarta
Lynda Juall Carpenito, Alih bahasa Yasmin Asih, 1997, Diagnosa Keperawatan , ed 6, EGC, Jakarta
Marilyn E. Doenges, et al, 1997, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, jakarta
Sylvia A. Price,  Alih  bahasa Adji Dharma, 1995 Patofisiologi, konsep klinik proses- proses penyakit ed. 4, EGC, Jakarta






ASKEP PENURUNAN KESADARAN


ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA KLIEN YANG MENGALAMI PENURUNAN KESADARAN

A.    PENGERTIAN

Kesadaran adalah pengetahuan penuh atas diri, lokasi dan waktu.
                                                                                                ( Corwin, 2001 )
Penurunan kesadaran adalah keadaan dimanapenderita tidak sadar dalam arti tidak terjaga / tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang normal terhadap stimulus.
Kesadaran secara sederhana dapat dikatakan sebagai keadaan dimana seseorang mengenal / mengetahui tentang dirinya maupun lingkungannya.
                                                                                    ( Padmosantjojo, 2000 )
Dalam menilai penurunan kesadaran dikenal beberapa istilah yaitu :
1.      Kompos mentis
Kompos mentis adalah kesadaran normal, menyadari seluruh asupan dari panca indra dan bereaksi secara optimal terhadap seluruh rangsangan baik dari luar maupun dalam.
2.      Somnelen / drowsiness / clouding of consciousness
Mata cenderung menutup, mengantuk, masih dapat dibangunkan dengan perintah, masih dapat menjawab pertanyaan walau sedikit bingung, tampak gelisah dan orientasi terhadap sekitarnya menurun.
3.      Stupor / Sopor
Mata tertutup dengan rangsang nyeri atau suara keras baru membuka mata atau bersuara satu dua kata . Motorik hanya berupa gerakan mengelak terhadap rangsang nyeri.
4.      Soporokoma / Semikoma
Mata tetap tertutup walaupun dirangsang nyeri secara kuat, hanya dapat mengerang tanpa arti, motorik hanya gerakan primitif.
5.      Koma
Dengan rangsang apapun tidak ada reaksi sama sekali, baik dalam hal membuka mata, bicara maupun reaksi motorik.
                                                                                          ( Harsono , 1996 )

B.     ETIOLOGI

Untuk memudahkan mengingat dan menelusuri kemungkinan – kemungkinan penyebab penurunan kesadaran dengan istilah  “ SEMENITE “ yaitu :
1.      : Sirkulasi
Meliputi stroke dan penyakit jantung
2.      E  : Ensefalitis
Dengan tetap mempertimbangkan adanya infeksi sistemik / sepsis yang mungkin melatarbelakanginya atau muncul secara bersamaan.
3.      M : Metabolik
Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, koma hepatikum
4.      E  : Elektrolit
Misalnya diare dan muntah yang berlebihan.
5.      : Neoplasma
Tumor otak baik primer maupun metastasis
6.      I   : Intoksikasi
Intoksikasi berbagai macam obat maupun bahan kimia dapat menyebabkan penurunan kesadaran
7.      : Trauma
Terutama trauma kapitis : komusio, kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural, dapat pula trauma abdomen dan dada.
8.      : Epilepsi
Pasca serangan Grand Mall atau pada status epileptikus dapat menyebabkan penurunan kesadaran.
( Harsono , 1996 )

C.    MANIFESTASI KLINIS

Gejala klinik yang terkait dengan penurunan kesadaran adalah :
    1. Penurunan kesadaran secara kwalitatif
    2. GCS kurang dari 13
    3. Sakit kepala hebat
    4. Muntah proyektil
    5. Papil edema
    6. Asimetris pupil
    7. Reaksi pupil terhadap cahaya melambat atau negatif
    8. Demam
    9. Gelisah
    10. Kejang
    11. Retensi lendir / sputum di tenggorokan
    12. Retensi atau inkontinensia urin
    13. Hipertensi atau hipotensi
    14. Takikardi atau bradikardi
    15. Takipnu atau dispnea
    16. Edema lokal atau anasarka
    17. Sianosis, pucat dan sebagainya

D.    PATHWAYS  ( terlampir )


E.     PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menentukan penyebab penurunan kesadaran yaitu :
    1. Laboratorium darah
Meliputi tes glukosa darah, elektrolit, ammonia serum, nitrogen urea darah ( BUN ), osmolalitas, kalsium, masa pembekuan, kandungan keton serum, alcohol, obat-obatan dan analisa gas darah ( BGA ).
    1. CT Scan
Pemeriksaan ini untuk mengetahui lesi-lesi otak
    1. PET ( Positron Emission Tomography )
Untuk meenilai perubahan metabolik otak, lesi-lesi otak, stroke dan tumor otak
    1. SPECT ( Single Photon Emission Computed Tomography )
Untuk mendeteksi lokasi kejang pada epilepsi, stroke.
    1. MRI
Untuk menilai keadaan abnormal serebral, adanya tumor otak.
    1. Angiografi serebral
Untuk mengetahui adanya gangguan vascular, aneurisma dan malformasi arteriovena.



    1. Ekoensefalography
Untuk mendeteksi sebuuah perubahan struktur garis tengah serebral yang disebabkan hematoma subdural, perdarahan intraserebral, infark serebral yang luas dan neoplasma.
    1. EEG ( elektroensefalography )
Untuk menilai kejaaang epilepsy, sindrom otak organik, tumor, abses, jaringan parut otak, infeksi otak
    1. EMG ( Elektromiography )
Untuk membedakan kelemahan akibat neuropati maupun akibat penyakit lain.

F.     PENGKAJIAN PRIMER

    1. Airway
a.       Apakah pasien berbicara dan bernafas secara bebas
b.      Terjadi penurunan kesadaran
c.       Suara nafas abnormal : stridor, wheezing, mengi dll
d.      Penggunaan otot-otot bantu pernafasan
e.       Gelisah
f.       Sianosis
g.      Kejang
h.      Retensi lendir / sputum di tenggorokan
i.        Suara serak
j.        Batuk
    1. Breathing
a.       Adakah suara nafas abnormal : stridor, wheezing, mengi dll
b.      Sianosis
c.       Takipnu
d.      Dispnea
e.       Hipoksia
f.       Panjang pendeknya inspirasi ekspirasi
    1. Circulation
a.       Hipotensi / hipertensi
b.      Takipnu
c.       Hipotermi
d.      Pucat
e.       Ekstremitas dingin
f.        Penurunan capillary refill
g.      Produksi urin menurun
h.      Nyeri
i.        Pembesaran kelenjar getah bening

G.    PENGKAJIAN SEKUNDER

    1. Riwayat penyakit sebelumnya
Apakah klien pernah menderita :
a.        Penyakit stroke
b.       Infeksi otak
c.        DM
d.       Diare dan muntah yang berlebihan
e.        Tumor otak
f.        Intoksiaksi insektisida
g.       Trauma kepala
h.       Epilepsi dll.

    1. Pemeriksaan fisik
a.        Aktivitas dan istirahat
Ø  Data Subyektif:
§  kesulitan dalam beraktivitas
§  kelemahan
§  kehilangan sensasi atau paralysis.
§  mudah lelah
§  kesulitan istirahat
§  nyeri atau kejang otot
Ø  Data obyektif:
§  Perubahan tingkat kesadaran
§  Perubahan tonus otot  ( flasid atau spastic),  paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum.
§  gangguan penglihatan
b.       Sirkulasi
Ø  Data Subyektif:
§  Riwayat penyakit stroke
§  Riwayat penyakit jantung
Penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung ,       endokarditis bacterial.
§  Polisitemia.
Ø  Data obyektif:
§  Hipertensi arterial
§  Disritmia
§  Perubahan EKG
§  Pulsasi : kemungkinan bervariasi
§  Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal
c.        Eliminasi
Ø  Data Subyektif:
§  Inkontinensia urin / alvi
§  Anuria
Ø  Data obyektif
§  Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh )
§  Tidak adanya suara usus( ileus paralitik )
d.       Makan/ minum
Ø  Data Subyektif:
§  Nafsu makan hilang
§  Nausea
§  Vomitus menandakan adanya PTIK
§  Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan
§  Disfagia
§  Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
Ø  Data obyektif:
Obesitas ( faktor resiko )
e.        Sensori neural
Ø  Data Subyektif:
§  Syncope
§  Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral  atau perdarahan sub arachnoid.
§  Kelemahan
§  Kesemutan/kebas
§  Penglihatan berkurang
§  Sentuhan  : kehilangan sensor pada ekstremitas dan pada muka
§  Gangguan rasa pengecapan
§  Gangguan penciuman
Ø  Data obyektif:
§  Status mental
§  Penurunan kesadaran
§  Gangguan tingkah laku (seperti: letargi, apatis, menyerang)
§  Gangguan fungsi kognitif
§  Ekstremitas : kelemahan / paraliysis genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam
§  Wajah: paralisis / parese
§  Afasia  ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya. )
§  Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, stimuli taktil
§  Kehilangan kemampuan mendengar
§  Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
§  Reaksi dan ukuran pupil : reaksi pupil terhadap cahaya positif / negatif, ukuran pupil isokor / anisokor, diameter pupil
f.        Nyeri / kenyamanan
Ø  Data Subyektif:
Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
Ø  Data obyektif:
§  Tingkah laku yang tidak stabil
§  Gelisah
§  Ketegangan otot
g.       Respirasi
Data Subyektif : perokok ( faktor resiko )


h.       Keamanan
Data obyektif:
§  Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
§  Perubahan persepsi terhadap tubuh
§  Kesulitan untuk melihat objek
§  Hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
§  Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali
§  Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh
§  Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan
§  Berkurang kesadaran diri
i.         Interaksi sosial
Data obyektif:
§  Problem berbicara
§  Ketidakmampuan berkomunikasi

    1. Menilai GCS
Ada 3 hal yang dinilai dalam penilaian  kuantitatif kesadaran yang menggunakan Skala Coma Glasgow :
§  Respon motorik
§  Respon bicara
§  Pembukaan mata
Ketiga hal di atas masing-masing diberi angka dan dijumlahkan.

Penilaian pada Glasgow Coma Scale

Respon motorik
Nillai 6 :    Mampu mengikuti perintah sederhana seperti : mengangkat tangan, menunjukkan jumlah jari-jari dari angka-angka yang disebutkan oleh pemeriksa, melepaskan gangguan.
Nilai 5:      Mampu menunjuk tepat, tempat rangsang nyeri yang diberikan seperti tekanan pada sternum, cubitan pada M. Trapezius
Nilai 4 :     Fleksi menghindar dari rangsang nyeri yang diberikan , tapi tidak mampu menunjuk lokasi atau tempat rangsang dengan tangannya.
Nilai 3 :     fleksi abnormal .
                  Bahu aduksi fleksi dan pronasi lengan bawah , fleksi pergelangan tangan dan tinju mengepal, bila diberi rangsang nyeri ( decorticate rigidity )
Nilai 2 :     ekstensi abnormal.
                  Bahu aduksi dan rotasi interna, ekstensi lengan bawah, fleksi pergelangan tangan dan tinju mengepal, bila diberi rangsang nyeri ( decerebrate rigidity )
Nilai 1 :     Sama sekali tidak ada respon
Catatan :
-          Rangsang nyeri yang diberikan harus kuat
-          Tidak ada  trauma spinal, bila hal ini ada hasilnya akan selalu negatif

Respon verbal atau bicara
Respon verbal diperiksa pada saat pasien terjaga (bangun). Pemeriksaan ini tidak berlaku bila pasien :
-          Dispasia atau apasia
-          Mengalami trauma mulut
-          Dipasang intubasi trakhea (ETT)
Nilai 5 :     pasien orientasi penuh atau baik dan mampu berbicara .     orientasi waktu, tempat , orang, siapa dirinya , berada dimana,  tanggal hari.
Nilai 4 :     pasien “confuse” atau tidak orientasi penuh
Nilai 3 :     bisa bicara , kata-kata yang diucapkan jelas dan baik tapi tidak menyambung dengan apa yang sedang dibicarakan
Nilai 2 :     bisa berbicara tapi tidak dapat ditangkap jelas apa artinya (“ngrenyem”), suara-suara tidak dapat dikenali makna katanya
Nilai 1 :     tidak bersuara apapun walau diberikan rangsangan nyeri


Respon membukanya mata :
Perikasalah rangsang minimum apa yang bisa membuka satu atau kedua matanya
Catatan:
Mata tidak dalam keadaan terbalut atau edema kelopak mata.
Nilai 4 :     Mata membuka spontan misalnya sesudah disentuh
Nilai 3 :     Mata baru membuka bila diajak bicara atau dipanggil nama atau diperintahkan membuka mata
Nilai 2 :     Mata membuka bila dirangsang kuat atau nyeri
Nilai 1 :     Tidak membuka mata walaupaun dirangsang nyeri

    1. Menilai reflek-reflek patologis :
a.       Reflek Babinsky
Apabila kita menggores bagian lateral telapak kaki dengan suatu benda yang runcing maka timbullah pergerakan reflektoris yang terdiri atas fleksi kaki dan jari-jarinya ke daerah plantar
b.      Reflek Kremaster :
Dilakukan dengan cara menggoreskan kulit dengan benda halus pada bagian dalam (medial) paha. Reaksi positif normal adalah terjadinya kontrkasi M.kremaster homolateral yang berakibat tertariknya atau mengerutnya testis. Menurunnya atau menghilangnya reflek tersebut berarti adanya ganguan traktus corticulspinal

    1. Uji syaraf kranial :
NI.N.      Olfaktorius – penghiduan diperiksa dengan bau bauhan seperti tembakau, wangi-wangian, yang diminta agar pasien menyebutkannya dengan mata tertutup

N.II. N.  Opticus
               Diperiksa dengan pemerikasaan fisus pada setiap mata . digunakan optotipe snalen yang dipasang pada jarak 6 meter dari pasien . fisus ditentukan dengan kemampuan membaca jelas deretan huruf-huruf yang ada
N.III/      Okulomotoris. N.IV/TROKLERIS , N.VI/ABDUSEN
               Diperiksa bersama dengan menilai kemampuan pergerakan bola mata kesegala arah , diameter pupil , reflek cahaya dan reflek akomodasi

N.V.       Trigeminus berfungsi sensorik dan motorik,
               Sensorik diperiksa pada permukaan kulit wajah bagian dahi , pipi, dan rahang bawah serta goresan kapas dan mata tertutup 
               Motorik diperiksa kemampuan menggigitnya, rabalah kedua tonus muskulusmasketer  saat diperintahkan untuk gerak menggigit

N.VII/    Fasialis fungsi motorik N.VII diperiksa kemampuan mengangkat alis, mengerutkan dahi, mencucurkan bibir , tersentum , meringis (memperlihatkan gigi depan )bersiul , menggembungkan pipi.fungsi sensorik diperiksa rasa pengecapan pada permukaan lidah yang dijulurkan (gula , garam , asam)

N.VIII/   Vestibulo - acusticus
               Fungsi pendengaran diperiksa dengan tes Rinne , Weber , Schwabach dengan garpu tala.

N.IX/      Glosofaringeus, N.X/vagus : diperiksa letak ovula di tengah atau deviasi dan kemampuan menelan pasien

N.XI /     Assesorius diperiksa dengan kemampuan mengangkat bahu kiri dan kanan ( kontraksi M.trapezius) dan gerakan kepala

N.XII/    Hipoglosus diperiksa dengan kemampuan menjulurkan lidah pada posisi lurus , gerakan lidah mendorong pipi kiri dan kanan dari arah dalam 
           

H.    DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

  1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia jaringan, ditandai dengan peningkatan TIK, nekrosis jaringan, pembengkakan jaringan otak, depresi SSP dan oedema
Tujuan : gangguan perfusi jaringan berkurang/hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 jam.
Kriteria hasil :
-          Tidak ada tanda – tanda peningkatan TIK
-          Tanda – tanda vital dalam batas normal
-          Tidak adanya penurunan kesadaran
Intervensi :
Mandiri :
-          Tentukan faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu, yang dapat menyebabkan penurunan perfusi dan potensial peningkatan TIK
-          Catat status neurologi secara teratur, bandingkan dengan nilai standart
-          Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana
-          Pantau tekanan darah
-          Evaluasi : pupil, keadaan pupil, catat ukuran pupil, ketajaman pnglihatan dan penglihatan kabur
-          Pantau suhu lingkungan
-          Pantau intake, output, turgor
-          Beritahu klien untuk menghindari/ membatasi batuk,muntah
-          Perhatikan adanya gelisah meningkat, tingkah laku yang tidak sesuai
-          Tinggikan kepala 15-45 derajat
Kolaborasi :
-           Berikan oksigen sesuai indikasi
-           Berikan obat sesuai indikasi

2.      Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d  obstruksi jalan nafas oleh sekret
Tujuan : bersihan jalan nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 jam.
Kriteria hasil:
-           Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas
-           Ekspansi dada simetris
-           Bunyi napas bersih saat auskultasi
-           Tidak terdapat tanda distress pernapasan
-           GDA dan tanda vital dalam batas normal
Intervensi:
Mandiri :
-          Kaji dan pantau pernapasan, reflek batuk dan sekresi
-          Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan memberikan pengeluaran sekresi yang optimal
-          Penghisapan sekresi
-          Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam
Kolaborasi :
-          Berikan oksigenasi sesuai advis
-          Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi

3.      Pola nafas tak efektif berhubungan dengan adanya depresan pusat pernapasan
      Tujuan :
      Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 jam
      Kriteria hasil:
-          RR 16-24 x permenit
-          Ekspansi dada normal
-          Sesak nafas hilang / berkurang
-          Tidak suara nafas abnormal
      Intervensi :
      Mandiri :
-          Kaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan.
-          Auskultasi  bunyi nafas.
-          Pantau penurunan bunyi nafas.
-          Berikan posisi yang nyaman : semi fowler
-          Berikan instruksi untuk latihan nafas dalam
                  Catat kemajuan yang ada pada klien tentang pernafasan
      Kolaborasi :    
-          Berikan oksigenasi sesuai advis
-          Berikan obat sesuai indikasi



4.   Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan abnormalitas ventilasi-perfusi sekunder terhadap hipoventilasi
      Tujuan :
      Setelah diberikan tindakan keperawatan selaama 1 jam, pasien dapat mempertahankan pertukaran gas yang adekuat
      Kriteria Hasil :
      Pasien mampu menunjukkan :
-Bunyi paru bersih
-Warna kulit normal
-Gas-gas darah dalam batas normal untuk usia yang diperkirakan
      Intervensi :
      Mandiri :
-Kaji terhadap tanda dan gejala hipoksia dan hiperkapnia
-Kaji TD, nadi apikal dan tingkat kesadaran setiap[ jam dan prn, laporkan perubahan tinmgkat kesadaran pada dokter.
-Pantau dan catat pemeriksaan gas darah, kaji adanya kecenderungan kenaikan dalam PaCO2 atau penurunan dalam PaO2
-Bantu dengan pemberian ventilasi mekanik sesuai indikasi, kaji perlunya CPAP atau PEEP.
-Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap jam
-Tinjau kembali pemeriksaan sinar X dada harian, perhatikan peningkatan atau penyimpangan
-Evaluasi AKS dalam hubungannya dengan penurunan kebutuhan oksigen.
-Pantau irama jantung
Kolaboraasi :
-Berikan cairan parenteral sesuai pesanan
-Berikan obat-obatan sesuai pesanan : bronkodilator, antibiotik, steroid.





DAFTAR PUSTAKA


1.       Carolyn M. Hudak. Critical Care Nursing : A Holistic Approach. Edisi VII. Volume II. Alih Bahasa : Monica E. D Adiyanti. Jakarta : EGC ; 1997
2.       Susan Martin Tucker. Patient Care Standarts. Volume 2. Jakarta : EGC ; 1998
3.       Lynda Juall Carpenito. Handbook Of Nursing Diagnosis. Edisi 8. Jakarta : EGC ; 2001
4.       Long, B.C. Essential of medical – surgical nursing : A nursing process approach. Volume 2. Alih bahasa : Yayasan IAPK. Bandung: IAPK Padjajaran; 1996 (Buku asli diterbitkan tahun 1989)
5.       Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarth’s textbook of medical – surgical nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A.  Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
6.       Corwin, E.J. Handbook of pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
7.       Price, S.A. & Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept of disease processes. 4th Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 1994 (Buku asli diterbitkan tahun 1992)
8.       Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa, I.M. Jakarta: EGC; 1999 (Buku asli diterbitkan tahun 1993)
9.       Harsono, Buku Ajar Neurologi Klinis, Yokyakarta, Gajah Mada University Press, 1996 )
10.   Padmosantjojo, Keperawatan Bedah Saraf, Jakarta, Bagian Bedah Saraf FKUI, 2000
11.   Markum, Penuntun Anamnesis dan Pemeriksaan Fisis, Jakarta, Pusat Informasi  dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2000